Dari tahun ke tahun, animo peserta terus meningkat. Sehingga membuat event ini menjadi kebanggaan daerah.
Bahkan, panitia menyematkan trophy bergilir yang menjadi lambang supremasi dan semangat kompetisi.
Baca Juga: Sejarah Makam Orang Eropa dan Cina di Mojokerto: Pemicu Perubahan Batas Kota
Naungan KONI dan Wasiat Sejarah dari Sang Bupati
Agar kegiatan ini bisa terus hidup, RA Basoeni mengambil langkah strategis. Ia menetapkan KONI Kabupaten Mojokerto sebagai penyelenggara tetap dan memberi alokasi anggaran dari pemerintah kabupaten.
"Untuk menjamin keberlangsungannya, RA Basoeni membuat keputusan Gerak Jalan Tradisional Mojosari-Mojokerto ada di bawah naungan KONI Kabupaten Mojokerto," jelas Yuhan.
Perubahan dan Masa Surut di Era Reformasi
Pada masa pemerintahan Bupati HD Fatchurahman, rute sempat diubah menjadi 28 kilometer, merujuk pada angka keramat Sumpah Pemuda 28 Oktober. Jalur pun dialihkan ke arah selatan melalui Kutorejo, Dlanggu, dan berakhir di Puri.
Perubahan ini mengikuti semangat nasional saat Presiden Soeharto mencanangkan gerakan memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Saat itu, jumlah peserta pun terus membengkak, mencerminkan antusiasme yang tetap membara.
Namun, kejayaan itu harus meredup saat gejolak Reformasi 1998. Seiring perubahan politik dan sistem, Gerak Jalan Mojosari-Mojokerto pun menghilang dari kalender rutin daerah.
Baca Juga: Mengenal KH Mudzakir Ma'ruf, Penggagas Ngaji Reboan di Masjid Agung Al Fattah Mojokerto
"Hingga pada tahun 1997 Gerak Jalan Tradisional Mojosari-Mojokerto masih ada. Gejolak Reformasi membuat event yang dinanti tersebut mati," tutur Yuhan mengenang.
Upaya menghidupkannya sempat dilakukan oleh Pak Didik Chusnul Yaqin, Kadis Budpora, dengan nama baru Gerak Jalan Perjuangan, tapi hanya berlangsung dua tahun.
Memori Kolektif dan Harapan Bangkit Kembali
Bagi Yuhan, kenangan terhadap gerak jalan ini bukan hanya catatan sejarah, tapi bagian dari hidupnya. Meski tak pernah menuntaskan sebagai peserta penuh, ia pernah ikut sebagai bagian dari regu kehormatan PKS (Patroli Keamanan Sekolah) binaan Saka Bhayangkara Polres Mojokerto.
Artikel Terkait
Akal Bulus Para Lurah di Mojokerto Dapat Pinjaman Bank Desa Demi Judi, Bikin Bupati Naik Pitam
Situs Bhre Kahuripan Mojokerto Diekskavasi Lagi, Ini Temuan Unik Struktur Bintang dan Pagar Kuno
23 Titik Strategis di Mojokerto yang Jadi Target Serangan Jepang Jelang Proklamasi Kemerdekaan
Penjelasan Arkeolog Soal Struktur Unik Berbentuk Bintang di Situs Bhre Kahuripan Mokokerto