Dokter Forensik Beberkan Hasil Autopsi Pelajar SMK Mojokerto yang Tewas di Sungai Brantas

Photo Author
Muhammad Lutfi Hermansyah, Kabar Mojokerto
- Kamis, 22 Mei 2025 | 14:17 WIB
Dokter forensik dr. Deka Bagus Binarsa saat memberikan keterangan kepada awak media di RS Pusdik Bhayangkara, Porong, Kamis (22/5/2025). (M Lutfi Hermansyah)
Dokter forensik dr. Deka Bagus Binarsa saat memberikan keterangan kepada awak media di RS Pusdik Bhayangkara, Porong, Kamis (22/5/2025). (M Lutfi Hermansyah)

Kabar Mojokerto Hasil autopsi jenazah Mukhamat Alfan (18), pelajar SMK Raden Rahmat Mojokerto yang ditemukan meninggal dunia di aliran Sungai Brantas, akhirnya diungkap oleh Dokter forensik dari RS Pusdik Bhayangkara Pusdik Sabhara, Porong, pada Kamis (22/5/2025).

Dokter forensik dari RS Pusdik Bhayangkara Pusdik Sabhara, Porong, menyatakan jika penyebab kematian Alfan adalah tenggelam, bukan akibat kekerasan fisik seperti yang sempat dikhawatirkan oleh pihak keluarga.

Dokter Deka Bagus Binarsa, spesialis forensik yang menangani kasus ini, menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan luar tidak menunjukkan adanya luka atau tanda kekerasan. Sementara dari autopsi bagian dalam ditemukan lumpur pada saluran pernapasan bagian bawah, yang menunjukkan bahwa Alfan kemungkinan besar masih hidup ketika masuk ke dalam air.

Baca Juga: Pria di Mojokerto Ini Embat Ponsel Tetangga Saat Sleep Call Pacarnya, Berujung Diringkus Polisi

"Korban menunjukkan tanda-tanda menghirup air saat masih hidup, ditandai dengan adanya lumpur di saluran napas bagian bawah. Ini mengarah pada kesimpulan bahwa penyebab kematian adalah tenggelam," kata dr. Deka saat memberikan keterangan kepada awak media.

Untuk memastikan lebih lanjut, tim medis juga melakukan pemeriksaan diatom pada sumsum tulang belakang. Hasil laboratorium menunjukkan hasil positif, yang menguatkan dugaan bahwa Alfan tewas karena tenggelam.

"Hasil uji diatom menunjukkan keberadaan organisme yang hanya bisa masuk ke sumsum saat seseorang masih bernapas di dalam air. Ini memperkuat bahwa korban meninggal akibat tenggelam, bukan karena kekerasan fisik," jelasnya.

Meski demikian, keluarga Alfan masih menyimpan sejumlah kecurigaan. Mereka mempertanyakan adanya lebam pada bagian dada serta kondisi rambut korban yang tampak lebih pendek saat ditemukan. Padahal, menurut mereka, Alfan belum sempat memangkas rambut.

Baca Juga: Penimbun 14 Ton Pupuk Subsidi di Mojokerto Tak Melawan Divonis 10 Bulan Penjara

Menanggapi hal tersebut, dr. Deka menjelaskan bahwa proses pembusukan jenazah yang berlangsung selama 3 hingga 5 hari kemungkinan besar menjadi penyebab kerontokan rambut dan perubahan kondisi fisik lainnya. Menurutnya, pembusukan dapat menyebabkan kulit di bawah akar rambut mengelupas sehingga rambut tercabut secara alami, terutama karena jenazah sempat terbawa arus sungai yang deras.

"Pembusukan menyebabkan kulit di bawah akar rambut lepas, sehingga rambut ikut terlepas. Bukan karena dipotong. Ini wajar terjadi pada jenazah yang terendam air selama beberapa hari," katanya.

Mengenai lebam di dada dan wajah, Deka juga menegaskan bahwa itu bukan akibat trauma benda tumpul, melainkan bagian dari proses alami setelah kematian.

"Jika itu benar memar karena kekerasan, harus ada resapan darah di bawah jaringan kulit. Tapi dalam kasus ini tidak ditemukan resapan tersebut. Warna merah keunguan itu merupakan tanda-tanda pembusukan yang umum terjadi," ungkapnya.

Baca Juga: Apes Maling di Gudang Pabrik Mojokerto Gagal Gasak Kawat Tembaga gegara Terekam CCTV

Halaman:

Editor: Fanda Yusnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X