Tampak seorang ajudan Sudewo memasang badan untuk menangkis lemparan botol massa. Ajudan berkemeja putih itu menggunakan tameng milik polisi.
Baca Juga: Mahasiswa Mojokerto Demo Desak Pencabutan Revisi UU TNI, Tolak Militerisasi Demi Jaga Demokrasi
Terlihat massa masih ada yang bertahan di depan Kantor Bupati Pati. Sebagian pintu gerbang terbuka dengan penjagaan ketat oleh petugas kepolisian.
unjuk rasa warga Pati berawal dari kebijakan Pemerintah Kabupaten Pati yang menaikkan tarif pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan (PBB-P2) hingga 250 persen.
Kenaikan tarif itu masih masuk batas maksimal dan tidak diberlakukan untuk seluruh objek pajak. Karena kenaikannya hanya 50 persen. Namun warga tetap menolak.
Para warga juga menilai pernyataan Bupati Pati Sudewo menyakiti hati masyarakat, yang mempersilakan berunjuk rasa hingga 5.000 ataupun 50.000 orang sekalipun.
Baca Juga: Emak-Emak Mojokerto Demo di Balai Desa Gading, Uang Tabungan Lebaran Raib Digondol Petugas Koperasi
Warga akhirnya melakukan aksi donasi dengan mengumpulkan air mineral kemasan dos di sepanjang jalur trotoar depan pendopo Kabupaten Pati.
Donasi juga terus mengalir hingga air mineral dengan kemasan dos ditempatkan di kawasan Alun-alun Pati.