Kabar Mojokerto - Operasional pabrik penggilingan padi di Desa Jasem, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto kembali menuai keluhan dari warga. Lokasinya yang berdekatan dengan area pemukiman, dikeluhkan karena menimbulkan polusi debu dan bau yang diduga menyebabkan gangguan kesehatan seperti gatal-gatal hingga sesak napas pada warga sekitar.
Merespons kondisi tersebut, sejumlah warga mendatangi Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto pada Rabu (30/4/2025). Mereka meminta agar pemerintah daerah segera bertindak dan mencarikan solusi konkret atas persoalan yang sudah lama terjadi.
Kehadiran warga diterima langsung oleh Kepala DLH Mojokerto, Zaqqi, beserta jajarannya. Dalam audiensi tersebut, warga menyampaikan bahwa permasalahan ini telah berlangsung sejak tahun 2018, namun belum mendapatkan penanganan yang memadai.
Baca Juga: Wali Kota Mojokerto Dorong Peningkatan Sadar Hukum hingga Tingkat Kelurahan
Maria Susanti (38), salah satu warga yang hadir, mengungkapkan bahwa debu dari aktivitas pabrik kerap beterbangan hingga masuk ke rumah-rumah warga. Menurutnya, hal ini menyebabkan gangguan kesehatan seperti batuk, gatal-gatal, hingga sesak napas.
“Sejak lama kami sudah merasa terganggu, terutama karena jarak antara pabrik dan rumah warga terlalu dekat. Selain kesehatan, dampaknya juga ke nilai properti yang menurun dan hasil pertanian yang ikut terdampak,” ujar Maria di kantor DLH.
Baca Juga: Cerita Pasutri Penjual Pisang di Mojokerto Berangkat Haji Setelah 23 Tahun Menabung
Maria mengaku, berbagai upaya telah dilakukan warga, termasuk melapor ke DLH pada 2021. Laporan tersebut sempat ditindaklanjuti dengan verifikasi lapangan dan berujung pada sanksi administratif untuk pihak pabrik. Namun, ia menilai tidak ada perubahan signifikan sejak saat itu.
“Kami sudah mengirim dua surat peringatan, pada 24 Maret dan 28 April tahun ini. Tapi belum ada tanggapan sama sekali dari pihak pabrik,” katanya.
Warga lainnya, berinisial AH, menambahkan bahwa pabrik beroperasi tanpa henti selama 24 jam, yang membuat paparan debu dan bau menjadi konstan setiap hari.
“Kalau debunya sampai masuk ke rumah yang tidak punya plafon, bisa nempel ke makanan. Kita jadi khawatir terus. Kulit juga sering gatal-gatal,” jelasnya.
AH menegaskan bahwa warga tidak berniat menuntut penutupan pabrik, melainkan hanya ingin adanya pengendalian dampak lingkungan agar mereka bisa kembali hidup nyaman di desanya sendiri.
Baca Juga: 505 Calon Jemaah Haji Mojokerto Gagal Berangkat, Terkendala Pelunasan BIPIH
Artikel Terkait
Harga Sembako Mojokerto Hari Ini 29 April 2025: Cabai Turun, Daging Sapi Naik Tipis
Di Tengah Gempuran Digital, Duta GenRe 2025 Christopher Kevin Yuwono Siap Jadi Agen Perubahan
Jalan Rusak Antar Dusun di Mojokerto Viral, Becek saat Hujan dan Berdebu saat Kering
Timbun 14,25 Ton Pupuk Subsidi, Dua Warga Mojokerto Dituntut 1 Tahun Penjara